Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Muhammadiyah Malang
Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Muhammadiyah Malang

Pembekalan Calon Wisudawan, FEB Hadirkan Suwandono

Author : Administrator | Jum'at, 24 Mei 2013 12:56 WIB
Berita UMM
Acara pembekalan yang dikemas santai dan menarik

 

Rangkaian kegiatan Pembekalan dan Yudisium Calon Wisudawan Periode II Tahun 2013 Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) dimulai pada Rabu, 22 Mei 2013 di Aula Teknik. Dalam acara dengan judul Business Orientation for Graduates, FEB menghadirkan Suwandono, salah seorang tokoh di dunia properti yang memulai karir di usia 24 tahun dengan modal nol rupiah, untuk memberikan motivasi dan pembekalan kepada para calon wisudawan.

Dekan FEB, Nazaruddin Malik mengawali sambutannya dengan memperkenalkan tema rangkaian kegiatan yudisium periode II tahun 2013. "Setiap periode wisuda selalu ada tema dalam rangkaian kegiatannya, dan pada periode II Tahun 2013 ini temanya adalah Leading Inovation". Dalam kesempatan tersebut Dekan juga menyampaikan bahwa FEB berencana untuk membuka kelas khusus bisnis yang jumlah pesertanya dibatasi sekitar 30 mahasiswa, kelas ini nantinya akan mendapatkan bimbingan intensif berkenaan dengan bisnis.

Di akhir sambutannya, Dekan berpesan agar semua peserta dapat memanfaatkan momentum yang langka ini dengan sebaik-baiknya, mengingat narasumbernya merupakan orang yang sangat berpengalaman dalam bidangnya, dan mendatangkan sebagai pembicara bukanlah hal yang mudah yang dapat terlaksana dalam waktu yang singkat.

Dekan FEB yang juga didaulat untuk menjadi moderator, mengawali materi dengan memperkenalkan sosok Suwandono yang juga merupakan salah satu creator kesuksesan penanaman saham UMM atas taman rekreasi Sengkaling.  "Ditengah kesibukan beliau sebagai pengusaha properti, ternyata beliau juga masih sempat menulis novel", ujar Dekan sambil menyebutkan Novel Lian Nio sebagai salah satu karya dari Suwandono.

Suwandono yang pada acara tersebut berpenampilan nyantai, mengawali materinya dengan menyampaikan kegembiraan dan kesenangannya karena dapat berdiri dihadapan mahasiswa yang baik dan cerdas. Beliau menceritakan sejarahnya sejak kuliah semester 3 telah bekerja partime di sebuah perusahan akuntan publik, kemudian bekerja di perusahaan properti dan akhirnya mendirikan bisnis sendiri di usia 24 tahun. Di usia 26 tahun Suwandono telah membangun sekitar 1600 unit rumah, dan saat ini  perusahannya telah membangun lebih dari 10 ribu unit rumah tinggal dan 2 buah tower building. "Menceritakan hal ini bukan untuk menyombongkan diri, tetapi sebagai pembuka diskusi sekaligus memberikan motivasi pada para peserta", urai Suwandono.

Dihadapan 200 lebih calon wisudawan FEB, Suwandono mengatakan  bahwa calon wisudawan saat ini berada di persimpangan jalan. Setelah sebelumnya sebagai Mahasiswa dan lulus, kini dihadapkan pada 2 pilihan utama, apakah akan mengambil jalan untuk menjadi Karyawan atau jalan sebagai Pegawai, dan ada 1 jalan lagi yang jangan sampai dipilih, yakni jalan buntu.

Para peserta makin antusias, ketika Suwandono memberikan tips menjadi pengusaha akan tetapi tidak mempunyai modal. Langkah pertama adalah harus memantapkan hati dulu untuk menjadi seorang pengusaha. Keyakinan menjadi pengusaha harus dimantapkan terlebih dahulu, jangan sampai menjadi pengusaha kecelakaan, yakni menjadi pengusaha ketika jalan lain (melamar pekerjaan)  tidak pernah sukses.

Langkah kedua adalah mempersiapkan diri untuk merealisasikan niatan menjadi pengusaha. Mulai belajar hal-hal yang berkaitan dengan bisnis dari berbagai sumber. Persiapan yang paling penting yang sering dilupakan adalah mulai bergaul dengan para pelaku bisnis, karena belajar dari para pelaku bisnis, akan dapat lebih mudah dan lebih nyata untuk belajar memulai, menjalankan dan menangani permasalahan yang kerap terjadi di dunia bisnis. Sementara langkah ketiga adalah Interogasi diri sendiri. Interogasi diri sendiri dengan pertanyaan: "Saya Bisa Apa?" dan "Saya Punya Apa?". Intergasi ini akan membuat pelaku lebih fokus tentang bisnis apa yang akan dijalankan.
 

 
     
 

Peserta dibuat semakin penasaran ketika Suwandono akan menyampaikan cara-cara membangun bisnis dengan modal nol rupiah. Suwandono menceritakan bahwa ada tiga cara yang dapat dilakukan untuk memulai bisnis tanpa modal, cara pertama adalah menjadi mediator (makelar). Menjadi mediator berarti menjadi penjual informasi. Banyak makelar yang lebih kaya dari pada pebisnisnya sendiri, karena makelar memiliki banyak sumber pendapatan (sumber informasi) sementara pebisnis hanya memiliki satu sumber.

Cara yang kedua adalah dengan menjual skill power (menjual keahlian). Pebisnis yang tidak memiliki modal, akan tetapi memiliki keahlian dapat mencari rekanan yang memiliki modal tetapi tidak mempunyai keahlian. Buat proposal bisnis yang bagus, agar lebih mudah untuk mendapatkan rekanan (investor). Cara yang ketiga adalah dengan menjadi pegawai terlebih dahulu. Mantapkan niat bahwa menjadi pegawai tidak selamanya, menjadi pegawai dijadikan sarana untuk menguasai bidang bisnis yang akan digelutinya, untuk memperluas pergaulan, dan jangan sampai mempunyai tujuan menjadi pegawai untuk mencari duit, karena jika terlena tidak akan dapat memulai bisnis yang telah direncanakan. Ia mewanti-wanti kepada peserta "Menjadi pegawai yang dimaksud disini adalah menjadi pegawai yang berhubungan dengan bisnis yang akan digeluti, sebab tujuan utamanya bukan untuk mencari duit, tetapi untuk belajar dan memperluas pergaulan)", urai Suwandono.

Suwandono menceritakan bahwa yang dia tempuh dahulu adalah cara yang ketiga, berasal dari keluarga sederhana, masuk kuliah umur 17 dan saat semester 3, karena kondisi ekonomi keluarga sedang sulit, Suwandono bekerja partime untuk membiaya kuliahnya. Bekerja di Akuntan Publik di Jember hingga akhirnya membawa ia untuk bekerja menjadi karyawan di salah satu perusahaan properti. Karena perusahaan bangkrut dan banyak pegawai yang mengundurkan diri akhirnya Suwandono yang sebelumnya berposisi sebagai akuntan, harus menangani bidang-bidang lain, hingga ia mengerti seluruh seluk beluk di bisnis properti. Lulus kuliah pada usia 21 tahun, Suwandono tetap bertahan di perusahaan tersebut hingga ia mulai bertekad untuk terjun di dunia bisnis sendiri sejak usia 24 tahun.

Acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab, antusiasme peserta makin kelihatan dengan banyaknya jumlah peserta yang bertanya, seandainya jumlah penanya tidak dibatasi mungkin acara yang dimulai pukul 09.30 dan berakhir pukul 13.30 ini akan berlangsung lebih lama lagi.
 

 

Di akhir acara Dekan sekaligus moderator kegiatan  manyampaikan pesan bahwa untuk menjadi pebisnis harus rendah hati, tidak mudah gengsi dan dapat menjaga kepercayaan yang diberikan oleh orang. Dan satu hal lagi yang jarang diketahui orang, bahwa pebisnis itu harus mau menunda kesenangannya untuk mencapai hasil yang maksimal. Semua kejayaan atau kesuksesan pasti dilalui dengan proses yang panjang dan lama. Beliau mencontohkan juga dengan yang ada di UMM, di UMM tokoh-tokohnya rela untuk menunda kesenangan mereka bahkan keluarga mereka, hingga sekarang kita semua dapat melihat hasil dari apa yang telah dilakukan oleh tokoh-tokoh pendiri UMM.

 

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image