Gebyar Event Manajemen 2025: Mahasiswa Manajemen UMM Ubah Teori Jadi Aksi Nyata Kelola Acara Profesional

Gebyar Event Manajemen FEB UMM

Malang – Suasana Kampus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), khususnya area Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), berubah meriah pada Sabtu (25/10/2025). Ratusan mahasiswa Program Studi (Prodi) Manajemen FEB UMM terlibat aktif dalam Gebyar Event Manajemen (GEM) 2025, sebuah ajang praktik akbar yang mengubah ruang kelas menjadi arena manajemen event profesional. Kegiatan yang diinisiasi oleh Laboratorium Manajemen dan Himpunan Mahasiswa Program Studi Manajemen (HMPSM) ini menjadi panggung bagi 570 mahasiswa dari 19 kelas praktikum untuk secara serentak menyelenggarakan berbagai event di berbagai titik kampus. Mulai dari edukasi, olahraga, seni, hingga kuliner, GEM 2025 menjadi bukti nyata komitmen Prodi Manajemen dalam mewujudkan Kurikulum Berdampak yang menekankan pada inovasi dan kolaborasi. GEM 2025 ini merupakan implementasi nyata dari teori keilmuan yang telah dipelajari mahasiswa, sekaligus memperkuat pengalaman manajerial mereka. Ketua Prodi Manajemen, Dr. Nurul Asfiah, M.M., menegaskan bahwa mahasiswa tidak bisa hanya mengenal teori. “Melalui kegiatan seperti ini, mereka belajar berinovasi dan berkolaborasi. Inilah pengalaman manajerial sesungguhnya,” ujarnya. Keterlibatan total mahasiswa Manajemen yang masif ini mencerminkan semangat Laboratorium Manajemen untuk menjadi wadah praktik aplikatif. Kepala Laboratorium Manajemen, Warsono, M.M., berharap mahasiswa mampu mengembangkan soft skill esensial seperti komunikasi, kepemimpinan, dan kerja sama tim yang akan menjadi modal berharga di dunia kerja. Bagi mahasiswa, praktik lapangan GEM 2025 menawarkan tantangan sekaligus pembelajaran tak ternilai. Nadda Zahara Putri, salah satu peserta, mengungkapkan antusiasmenya. “Selama ini kami belajar teori tentang perencanaan dan pengorganisasian, tapi lewat GEM kami benar-benar mempraktikkannya. Kami belajar bekerja dalam tim, mengelola sumber daya, bahkan mengatasi masalah di lapangan. Seru sekaligus menantang,” tuturnya. Pengalaman langsung dalam menyusun konsep acara, mengelola budget, hingga berinteraksi dengan stakeholder memberikan pemahaman komprehensif yang tidak didapatkan dari perkuliahan biasa. Secara keseluruhan, Gebyar Event Manajemen 2025 sukses menciptakan suasana akademik yang hidup dan dinamis di Kampus UMM. Acara ini membuktikan bahwa mahasiswa Manajemen UMM tidak hanya unggul dalam pemahaman teoritis, tetapi juga memiliki kapabilitas untuk menjadi pelaku manajemen profesional yang handal. Lebih dari sekadar tugas kuliah, GEM 2025 adalah langkah strategis Prodi Manajemen dalam menyiapkan lulusan yang siap menghadapi tantangan industri, menjadi event organizer andal, dan siap memimpin proyek-proyek besar di masa depan.

Soft Skill, Kunci Kualifikasi Lulusan S1 yang Dicari Perusahaan

Batu  – Dalam rangkaian Lokakarya Program Studi Manajemen yang digelar di Samara Hotel and Resort, Batu, Workshop Mitra Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) menghadirkan Zamanan Azkiy, Manajer Proses PT. Cheil Jedang Indonesia, sebagai pembicara utama. Dalam pemaparannya, Zamanan menekankan bahwa pengetahuan (knowledge) yang dimiliki lulusan mencerminkan kredibilitas institusi pendidikan. Namun, sikap (attitude) juga memegang peranan penting dalam dunia kerja, karena terbentuk dari lingkungan, keluarga, serta pengalaman sosial yang memengaruhi karakter individu. Menurut Zamanan, kemampuan berpikir kritis dan kreatif dapat diasah melalui studi kasus. Oleh karena itu, kurikulum perguruan tinggi tidak cukup hanya mengajarkan teori secara teknikal, tetapi juga harus dikaitkan dengan analisis kasus nyata. Mahasiswa perlu dibiasakan mengolah informasi dari berbagai sumber untuk menganalisis suatu masalah secara komprehensif. Sebagai perwakilan dunia industri, Zamanan berharap lulusan S1 memiliki keunggulan dalam soft skill yang memungkinkan mereka mengintegrasikan berbagai fenomena untuk menghasilkan solusi terbaik. “Lulusan tidak hanya dituntut menguasai teori, tetapi juga harus mampu membantu perusahaan mencari solusi komprehensif terhadap permasalahan yang ada,” ujarnya. Ia juga menegaskan bahwa dosen memiliki peran strategis dalam mengarahkan mahasiswa agar mampu bersaing dengan lulusan dari universitas lain. Proses berpikir kreatif melibatkan pemahaman serta identifikasi masalah, pengumpulan informasi, pencarian ide, dan penyusunan solusi (convergent atau divergent thinking). Untuk melatih keterampilan ini, mahasiswa harus diperbanyak terlibat dalam kegiatan praktik, seperti ikut serta dalam penyelesaian masalah industri, menyusun laporan terkait solusi yang ditawarkan, hingga menganalisis akar permasalahan secara mendalam. Selain itu, mahasiswa perlu aktif berorganisasi di lingkungan kampus agar terbiasa bekerja dalam tim dan mengasah kemampuan problem-solving. Dengan pembiasaan ini, lulusan diharapkan tidak hanya memiliki keunggulan akademik, tetapi juga siap menghadapi tantangan nyata di dunia kerja.

FEB UMM Gelar Lokakarya Rekonstruksi Visi dan Misi Program Studi Manajemen

Batu – Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar lokakarya Program Studi Manajemen di Samara Hotel and Resort, Batu. Acara yang mengusung tema “Rekonstruksi Visi, Misi, Tujuan, dan Strategi dalam Memperkuat Program Studi yang Berstandar Internasional” ini bertujuan untuk merancang kurikulum yang lebih adaptif serta meningkatkan daya saing lulusan di tingkat global. Kegiatan ini dibuka oleh Wakil Rektor IV UMM, Muhammad Salis Yuniardi, M.Psi, Ph.D., yang dalam sambutannya menyoroti dinamika pendidikan tinggi serta tantangan yang dihadapi dunia akademik di era modern. Ia menekankan pentingnya inovasi berkelanjutan guna memperkuat keunggulan program studi. Dalam paparannya, Muhammad Salis Yuniardi menegaskan bahwa pembaruan kurikulum harus berorientasi pada kebutuhan industri dan perkembangan global. Menurutnya, rekonstruksi kurikulum bukan sekadar menyusun visi, misi, dan analisis SWOT, tetapi juga harus memperhitungkan proyeksi masa depan, jenis pekerjaan yang dibutuhkan, serta kompetensi yang harus dimiliki oleh lulusan. “Untuk tetap unggul, universitas harus memiliki keunikan tersendiri. Dalam hal ini, Program Studi Manajemen perlu menitikberatkan pengembangan soft skill sebesar 60% dan hard skill sebesar 40%,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa dalam proses rekrutmen tenaga kerja, perusahaan lebih dulu mempertimbangkan sikap dan keterampilan interpersonal kandidat sebelum mengembangkan kompetensi teknis mereka di dunia kerja. Lebih lanjut, kurikulum yang dikembangkan tidak hanya berfokus pada mata kuliah yang diajarkan di kelas, tetapi juga harus mencakup pengalaman belajar di luar kelas serta interaksi yang membentuk karakter mahasiswa. Hal ini diharapkan dapat menciptakan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat dalam menghadapi tantangan dunia kerja. Selain itu, dalam upaya memperkuat Pusat Keunggulan (Center of Excellence), pendekatan interdisipliner dinilai sebagai strategi yang lebih efektif. Beberapa bidang studi spesifik seperti Supply Chain Management (SCM) yang menggabungkan manajemen dan teknik industri, serta Human Resource Development (HRD) yang menghubungkan psikologi dan manajemen, dapat memberikan dampak yang lebih luas dan signifikan jika dikembangkan secara sinergis. Sebagai penutup, Wakil Rektor IV menekankan bahwa revisi kurikulum harus memenuhi dua prinsip utama, yaitu fleksibilitas dan kepercayaan terhadap mahasiswa. “Kurikulum harus fleksibel agar mudah disesuaikan dengan perkembangan zaman. Selain itu, kita juga harus percaya bahwa mahasiswa dapat memperoleh kompetensi tidak hanya dari dosen, tetapi juga dari berbagai pengalaman belajar yang tersedia, termasuk melalui Pusat Keunggulan,” pungkasnya. Dengan adanya lokakarya ini, diharapkan Program Studi Manajemen FEB UMM dapat terus berkembang dan mampu menghasilkan lulusan yang berdaya saing tinggi di tingkat internasional.